Kembali aku menyoroti Minoru dengan keadaan sama-sama telanjang. “Sekarang layani aku!!!”, perintahku menyuruh Minoru menghentikan jogetannya.Kutarik tubuhnya hingga mendekat denganku.Aku menekannya ke bawah hingga dia terlutut di depanku. Bokep “Karaoke?”, tanyaku.“*****asyik bro..”, jawabnya. Kecil susunya terlihat hampir rata sebab dia berbaring sehingga “puding kenyal” itu merata. “Ooohhb….”, desahku menikmati kuluman Minoru.Zenit sudah tertidur dengan posisi terduduk, dia sudah memberikan kesempatan ini padaku. Sampai jumpa lagi kawan, akan ku “siksa” Minoru sesuai dengan pesanmu. “Tapi… Aku ga bisa lama…”, kata Minoru.“Entar ortu aku curiga…”, jawabnya.“Sudah, aku ga peduli, lu ngomongin jak sama kawan aku tuh…”, balas Zenit sambil melihat ke arahku.Kami masuk kamar, sambil membawa semua minuman dan rokok. “Hisap!!!”, perintahku minta Minoru menyepongkan kontolku.




















