seper.. Bokepindo Tak terasa celanaku semakin sempit karena senjata kesayanganku menggeliat. aku membayangkan orang yang dahulu pernah menjadi guruku. Yang aku herankan adalah beliau tetap terlihat cantik diusia yang aku taksir sudah kepala lima. Tangannya yang satu berpegangan pada pinggiran bak semen. Lidahku menari diatas pahanya dan diselingi dengan sedotan-sedotan kecil. “Ih..”, Dia mencubit hidungku. Beliau menarik kepalaku agar aku menghentikan aktivitasku. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menyahut. “Itu Bu Nia jamnya ambil sendiri ya” Aku mencoba santai. Memang aku sengaja. Tampak dia memelorotkan celana panjangnya kemudian CDnya lalu berjongkok. Dia masih berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya. Perlahan namun pasti aku arahkan benda kebanggaan para lelaki yang aku miliki. Bu Nia..” Aku berkata. Ibu juga belum mandi” Dia berkata.Bagai disambar petir di siang bolong mendengar tawaran itu




















