Aku pun juga. Bokepindoh Hahahaha…”
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. “Cukup segitu?” tanya Jayu lagi. Chie mendekap mulutku dengan bibirnya, menjatuhkanku di samping tempat tidur. Hahahaha…”
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. Chie, sederhana di balik gemerlap kehidupannya. “Ray…”
“Hmm…”
“Kamu pikir akan ada yang mau menikahiku kelak?”
Ah, Chie. Jay berpaling, menatap pandanganku. Bukan emosi terhadap Jay, melainkan terhadap dirinya. Sampai sekarang. Chie melambaikan tangannya dari atas balkon. Karena Chie adalah seorang sahabat. Sehingga aku, entah bagaimana, terpancing untuk datang ke rumah Jay demi menuntut penjelasan. “Ray, tambah tua aja lu.”
Aku tertawa dan menghisap Marlboro di jepitan bibirku dalam-dalam, tersedak saat sesuatu menutupi mataku.“Raay! Ah.




















