Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Seperti telah direncanakan, kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. Bokepindo Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. “Eeehhh…” desahnya. Kami berdua menarik nafas panjang.Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku mengelap selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata, “Buka dong kacanya..” Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rini yang sedang memegang kamera. Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu.




















