Dan tak perlu menunggu sore, ia kembali siangnya, sekitar pukul 10 dan menyerangku lagi di minggu pagi itu. Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin. Bokepindo Entah kenapa aku jadi ketakutan. Mbak sendiri?” tanyaku, sedikit gugup.“Nggak. Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat.“Eit, kau melihat dadaku terus!” Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Tiba-tiba saja Mbak Marissa menarik kepalaku dan membenamkan dadanya ke wajahku.Dibantunya mulutku menemukan puting merah muda itu. Rambutnya lurus panjang. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Sekarang, hal yang paling asyik adalah adalah masuk kamar tidur dan membayangkan Mbak Marissa berada di sisiku.Aku duduk di kursi dan menuang air minum. Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini,” aku bicara gugup.“Namamu siapa, sih?” Tanya Mbak Marissa.“Mirza!”“Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya.




















