Dengan setengah mengancam, Mami berkata sebelum ia meninggalkan kami di tepi sungai, “Jaka, kamu jangan terlalu sering melirik si bungsu lho.., nanti malah kain sarungnya melorot”, ujarnya seolah tahu apa yang sedang kupikirkan bila melihat punggung pualam A Sui. “Bang Jaka kesinilah, aku kebelatan nich, angkatkan keranjang cuciannya, lagi pula baju abang yang banyak”, ujarnya dengan aksen chinese medannya yang kental.Ya, mau apa lagi memang kenyataannya pakaianku sendiri yang banyak di dalam keranjang cucian. Bokepindo Dimana A Sui?”, tanyanya sambih mengernyitkan alis matanya. “Namun jika abang Jack berkenan, maka biarlah kita baru menikah dalam kehidupan berikutnya sebagai sesama chinese, tapi sumpah saya harus dipenuhi dahulu”, ujarnya sambil menggigil.Tapi aku masih terdiam menatap aura tubuhnya yang menguapkan hawa hangat di sekitar tubuh mulusnya.




















