Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Ke bawah lagi: Turun. Bokepindo Aku mengurungkan niatku. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja.Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Kini pindah ke paha sebelah kanan.Ia tepat berada di tengah-tengah. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Tidak perlu diantar. Langkahku semangat lagi. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya.




















