Kali ini kedua tanganku kulipat lagi dengan sengaja menyentuhkan ujung sikuku ke atas payudara Nidar.Usahaku kali ini nampaknya membawa hasil. Bokepindoh maaf aku mengganggu nih”, teriakku dari luar pintu yang memang tidak tertutup. Seiring dengan bunyi kaset di masjid-masjid aku sangat pelan menuju kamar Nidar dan pamit untuk pulang setelah jam 5.00 subuh. Atau..”, belum saya selesai bicara, ia tiba-tiba memotongnya dengan mengatakan
“Ah, tidak ada acara apa-apa kok, hanya sekedar main-main, ngobrol atau nonton TV, siapa tahu kamu tidak injak lagi rumahku setelah KKN”, katanya dengan penuh harap agar kami jalan-jalan ke rumahnya besok malam. “Nggak apa-apa, malah kami senang jika kamu bersedia tinggal di rumahku biar kamu tidak keluarkan biaya kontrakan rumah lagi, lagi pula kamu kan sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri” katanya merayuku.Setelah itu, suasana hening sejenak, tapi tidak berlangsung




















