Keras mencuat ke depan seperti cengkal kayu yang menonjol pada sarung anak yang disunat. Pakde Marto dan Surti telah meraih kepuasan yang sangat dahsyat. Bokepindoh Pelan-pelan mereka bangkit dari amben dan turun ke pematang kembali. Hujan ini luar biasa lebatnya. Surti menggeliatkan tubuhnya minta agar Pakde-nya cepat merangkulnya.Pakde Marto sendiri langsung memeluki dada Surti. Dan inilah saatnya “sang setan” lewat melemparkan bisikan racunnya yang terakhir kepada Pakde Marto.“Ambil!, Ambil!, Ambil!, Ambil!”, dan Pakde tahu persis maksudnya.Seperti bunga layu yang jatuh dari tangkainya, wajah Pakde Marto langsung jatuh merunduk. Maka, ketika pelukkan Pakde Marto pada bahu Surti yang semakin mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu sudah merupakan awal kemenangan sang “setan lewat” tadi.Demikian pula saat hujan yang semakin deras dan jalan yang semakin licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan




















