Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Bokepindo “Ya.”Lalu aq menuju ruang yg kemarin. Jendela kubuka. Hidungnya tdk mancung tetapi juga tdk pesek. “Ya.”Lalu aq menuju ruang yg kemarin. Kadang-kadang ketimun. Badannya berbalik lalu melangkah. Mobil bergerak pelan, aq masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yg berkeringat di lehernya itu. “Mbak Iin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Sudahlah. Aq tdk ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku,
“Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Pasti terburu-buru. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aq membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Ke bawah lagi: Turun. Aq harus memulai.




















