Saat itu jemarinya sudah masuk ke dalam celana dalamku, mengelus, lalu menggenggam batang kemaluanku. Bokep Canda itu membuat kami serasa sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. “Kamu akan melakukannya sekarang? Aku terkejut saat melihat ada air mata di situ. Di sini. Aku yakin, aku takkan menjumpainya lagi. Terus terang saja, aku benar-benar jengkel. Ia menatapku. Sejuta kesan yang tiada pernah lengkap diurai dengan kata-kata. Bibirnya berbisik-bisik tak karuan. Aku malu seketika. Kali ini ia menarik salah satu tali bra-nya hingga terjatuh sampai ke lengan. Teruskan.” Aku tak tahu apa maunya sebenarnya. Aku menekan pedal gas dan menyetir, tanpa sedikitpun tahu kemana aku harus menuju. Kulit yang putih dan halus itu membuat darahku berdesir. Kali ini senyumnya melebar. Beberapa saat kami saling pandang sampai akhirnya ia tersenyum. “Shall we dance?” katanya, membuat tawaku berhenti.




















