Jadi sama-sama dan tidak perlu malu. Aku tidak begitu mempedulikan semua itu.Sentot begitu nama penjagaku selain pak Marto Tua yang hobinya tidur.“Tot, kamu segede ini pernah coli gak?”Kumulai percakapan ke arah yang tepat.“Apa itu mas?”Kuperkirakan awalnya awal duapuluhan atau mungkin belum sampai dua puluh. Bokepindo “Sudah lama mas?” tanyanya.Belum sempat menjawab…Kudengar suara derap kuda dokar mendekat. Kontolku juga. Sentot menunduk tak berani sama sekali melihat wajahku. Badannya gempal, perutnya sixpack, tapi bodohnya cuma setingkat lebih tinggi dari monyet. Aku bingung dengan apa yang terjadi.Dua orang berpakaian jawa kuno masuk dengan membawa tombak.“Sebaiknya tuan Arya Sembrani berpakaian karena kami harus membawa tuan …”Siapa Arya Sembrani? Aku hanya mengamati mereka menggantikan tempat dua orang tadi. Bukan karena sentuhan dukun.Tanganku membuka kain yang menutupi kontol Sentot. Lilitan kainnya lebih mirip gambaran di wayang dan tanpa




















