Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Bokepindo sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot. Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil. Aku terus berusaha meronta saat supirku mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya.




















