Air hangat terasa membasahi kaki dan pinggangku, lalu aku mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Mengelus-elus perlahan, menimbulkan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk memastikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Bokepindo tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.Ketika Tania hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.“Siapa..?”, ujarnya sedikit malas.“Nia, ada telephone untuk kamu di depan”, ujar suara Eni teman kostnya dari balik pintu.“Dari siapa..?, Tania bertanya lagi.“Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.Tania bergegas bangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Kalau hal itu elu sebut ‘affair’, tapi elu janji yaa.. Berhenti dulu. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar




















