Aku terperanjat sekali mengetahui siapa orang itu sebenarnya.“Rio… Kamu…” Rio hanya menyeringai buas.“Eh, Mer. Kurasakan ia memapahku keluar diskotik. Bokepindo Aaahh… Papaa!” tangisanku berubah menjadi jeritan seketika itu juga tatkala ayah tiriku mengangkat tubuhku sedikit ke atas kemudian ia menghujamkan kemaluannya yang sudah dikeluarkannya dari dalam celananya ke dalam kewanitaanku.“Aaahh… Papaa… Jangaaan!” Aku meronta-ronta keras. Segera dibukanya seluruh ikatan di tangan dan kakiku. Tiba-tiba ia menindih tubuhku yang masih tengkurap, sementara tangannya meremas-remas belahan pantatku. Maafin Rio ya. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabah-nasabah bank tempatku bekerja yang menarik uang secara besar-besaran. Kedua belah buah dadaku yang ranum dan kenyal merapat pada dadanya. Dengan memaksa ia melumat bibirku yang merekah itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas.













