Tiba-tiba aku tertegun. Mungkin dia dari Wonolayu, desa sebelah sana. Bokepindoh Kuelus rambutnya yang sekarang tampak awut-awutan. kenapa Mbah?” tanyanya bingung.Aku sekarang berdiri di depannya, tanganku memegang pundaknya. Tidak kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat bergoyang dan berderak-derak. Dalam beberapa detik, tubuh bahenol Suminem hilang tertelan kegelapan malam.Aku menghela napas dan masuk kembali ke kamar. Biar cepet selesai”. Ceritakan saja. Coba kamu duduk di meja ini”. katanya tersenyum.Suminem tentu saja semakin kesal: “bahagia bagaimana to Pak?” tanyanya: “Wong sudah mbasahin baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala.”pak Kasno katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab: “wong bocah cilik, durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-laki) Nduk, nduk, nanti saja kamu kan tahu” dan dengan bicara begitu si hidung belang ngeloyor pergi.Setelah kejadian




















