Sudahlah.Masih ada esok. Ataujanganjangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya purapura masuk. Bokep kataku.Ya itu.Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik ditelingaku di atas ranjang yang putih. Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Wanita setengah baya itu merenggangkanbibirnya, ia terengahengah, ia menikmati dengan mataterpejam.Mbak Wien telepon.., suara wanita muda dari ruangsebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawabtelepon.Ngapaian sih di situ..? Oh.., aku hanya dapat menunduk,melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari diruangan sempit itu. Aku menanti dengandebaran jantung yang membuncahbuncah. Juniorku tegang seperti mainananakanak yang dituip melembung. katanya.Kini ia tidak malumalu lagi menyelinapkan jemarinya kedalam celana dalamku.



















