Kedua tangan kami serempak saling merangkul, mata kami sepakat untuk saling memejam. Harum payudaranya semakin menyengat hidungku, puting yang kemerahan semakin mencuat.Aku menatapnya untuk memantapkan pergumulan kami, tapi aku hanya melihat mata Sava yang tertutup dengan bibir yang dia gigit sendiri. Bokepindoh Lalu aku kecupi lagi bibirnya, tak lama bibirku mulai menuruni dagunya yang menggantung. Sava mengikuti, menghempaskan tubuhnya menindihku dengan manjanya, hingga membuat aku sedikit tersentak.“JEGUEEEEERRRRRRR !” suara petir mengagetkan kami, awan semakin pekat, hembusan angin semakin kencang. Sampai aku tak terhalang lagi dan mampu memotong daun pisang.Kondisi jalan yang mulai becek dengan tanah yang telah lumer, serta Sava yang semakin kedinginan. Seluruh gerak tubuhnya terhenti, detak jantungnya terpacu kencang. Dan Sava pun meresponnya dengan menggerak-gerakan pahanya. Hingga mampu menyeret bibir kami berdua untuk saling bertemu.Lembut, harum dan rasa-rasa yang gak




















