“Kenapa kamu bertanya demikian? Baju-bajuku masih berserakan di lantai. Bokepindo Wajahku memanas lagi. Aku tak bermaksud membuatmu tersinggung.”
Ia menatapku. “Tidak. Gerakan tubuhnya yang menempel di tubuhku, aroma wewangian dari kulitnya. “Ini,” ucapku seraya menyodorkan gelas di tanganku. Sampai akhirnya aku merusak suasana dengan pertanyaanku.“Stop!” serunya, membuyarkan lamunanku. “Aku…”
“Ssshhh,” jemari telunjuknya menempel di bibirku. Yang kurasakan selanjutnya adalah birahi yang memuncak. Matanya menatapku. “Ahhh,” ia mendesah saat kulakukan itu. Matanya menatapku. Tak ada satupun yang membuka pembicaraan. Waktu itu kulihat ia berdiri sendiri di depan pintu lorong yang menghubungkan ballroom dengan dapur. Sambil tersenyum lega, kuanggukkan kepalaku. “Kamju sudah pernah melakukannya?”
“Uh, apa? Tapi akhirnya kutekan pedal gas dan melajukan mobil menuju rumahku.“Well, home sweet home,” ucapku setelah menghentikan mobil di tepi trotoar. Aku belum pernah bercinta, itu benar.




















