“Husyyyyy… Bapak ini koq nakutin saya?” kataku. Aku menjadi pusing dan mencoba keluar kamar untuk minum, dengan harapan akan dapat menurunkan gairahku. Bokepindo yang menjaga,” jawabku. Ada juga terbersit rasa penyesalan di dadaku karena telah mengkhianati suamiku dan menyeleweng dengan pembantuku yang sudah tua ini. Namun entah kenapa di malam yang dingin dan suasana yang redup itu, tanpa kusadari, aku akhirnya pasrah dalam pelukan Pak Oding yang adalah pembantuku. Pak Oding berjalan tertatih-tatih, karena kakinya memang pincang. Jadi di rumah itu sekarang yang ada hanya aku dan Pak Oding. Pak Oding berjalan tertatih-tatih, karena kakinya memang pincang.




















