“Melamun apa Zainal”, tanya Indah. “Sudah ngopi, Zainal?”, tanyanya. Bokepindo Hampir jam 3 sore tahu!”, tanyanya yg kemudian dijawabnya sendiri dengan menunjuk jam tangannya. ssh.. Seusai mandi dan mengenakan pakaian aku keluar dari kamar mandi. Kamu sendiri kenapa mau?”, jawabnya yg dilanjutkannya dengan pertanyaan. Aku ke Banjarmasin ini juga karena dia mau mengunjungi istri dan anaknya di Jakarta”, jawabnya pelan. Kemudian tempurung lutut kananku dengan sengaja kugesekkan pada selakangannya. Beberapa saat kemudian tubuh Indah bergetar seiring dengan klimkaksnya. “Eh Mbak, jangan besar kepala dulu, iya kalau kembang mawar atau melati, kalau kembang kamboja yg seperti di makam-makam, bagaimana? Setiap baris rencana yg kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yg akan kulakukan. Kamu tdk akan bisa membuat wanita senang dengan cara ngobrolmu yg seperti itu.”, nasihat Indah padaku.




















